Minggu, 19 Mei 2013

Makalah Kebidanan Komunitas : PMS (Penyakit Menular Seksual)



BAB II
PEMBAHASAN

2.1     Pengertian PMS
Penyakit kelamin banyak terdapat di setiap negara. Banyaknya penyakit kelamin dalam masyarakat mencerminkan keadaan sosial penderita karena tergantung pada tingkah laku manusia, faktor psikologis, dan keadaan ekonominya.
Penyakit akibat hubungan kelamin (sexu­ally transmitted disease) merupakan penyakit-penyakit yang disebarkan melalui kontak seksual/kelamin. Sejak dulu, penyakit-penyakit ini merupakan masalah kesehatan yang perlu diperhatikan. Apalagi setelah ditemukannya virus HIV (Human Immunodeficiency Virus = virus yang melumpuhkan kekebalan tubuh manusia) yang menimbulkan penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome = Sindrom menurunnya kekebalan tubuh).
PMS adalah singkatan dari Penyakit Menular Seksual, yang berarti suatu infeksi atau penyakit yang kebanyakan ditularkan melalui hubungan seksual (oral, anal atau lewat vagina). PMS juga diartikan sebagai penyakit kelamin, atau infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual. Harus diperhatikan bahwa PMS menyerang sekitar alat kelamin tapi gejalanya dapat muncul dan menyerang mata, mulut, saluran pencernaan, hati, otak, dan organ tubuh lainnya. Umumnya matarantai penularan PMS adalah PSK. Rasio penularan akan meningkat bila pemakaian kondon dan hubungan seksual dengan PSK tidak dilakukan. PMS yang banyak ditemui Gonorrhoe (GO), Sifilis, Trikomoniasis, Herves Simplek, HIV / AIDS.
          Penyakit menular seksual (PMS) adalah infeksi apapun yang terutama yang didapat melalui kontak seksual. PMS adalah istilah umum dan organisme penyakit penyebabnya, yang tinggal dalam darah atau cairan tubuh, meliputi virus, mikoplasma, bakteri, jamur, spirokaeta dan parasit-parasit kecil (misalnya Phthirus pubis, skabies). Sebagian organisme yang terlibat hanya ditemukan di saluran genital (reproduksi) saja tetapi yang lainnya juga ditemukan di dalam organ tubuh lain. Di samping itu, seringkali berbagai PMS timbul secara bersama-sama dan jika salah satu ditemukan, adanya PMS lain harus dicurigai. Terdapat tentang keintiman kontak tubuh yang dapat menularkan PMS termasuk berciuman,  hubungan seksual, hubungan seksual melalui anus, kubilingus, anilingus, felasio dan kkontak mulut atau genital dengan payudara. Dokter diminta melaporkan PMS yang paling banyak terjadi ke departeman kesehatan setempat.
Perempuan lebih mudah terkena ISR dibandingkan laki – laki, karena saluran reproduksi perempuan lebih dekat ke anus dan saluran kencing, ISR pada perempuan juga sering tidak diketahui karena gejalanya kurang jelas dibandingkan dengan laki – laki. Pada perempuan ISR dapat menyebabkan kehamilan di luar kandungan., kemandulan, kanker leher rahim, kelainan pada janin / bayi, misalnya Berat Badan Lhir Rendah (BBLR) infeksi bawaan sejak lahir, bayi lahir mati, dan bayi lahir belum cukup umur. Infeksi saluran reproduksi (ISP) dapat terjadi akibat :
1)      Sisa kotoran yang tertinggal karena pembasuhan buang air besar yang kurang sempurna.
2)      Kesehatan umum rendah.
3)      Kurangnya kebersihan alat kelamin, terutama saat haid
4)      Perkawinan pada usian muda dan berganti – ganti pasangan
5)      Hubumgam sexual dengan penderita infeksi
6)      Pelukaan pada saat keguguran, melahirkan atau perkosaan
7)      Kegagalan pelayanan kesehatan dalam sterilisasi alat dan bahan dalam melakukan pemeriksaan / tindakan disekitar saluran reproduksi.


Beberapa hal penting yang perlu diketahui tentang PMS :
1)      PMS dapat terjadi pada laki – laki maupun perempuan
2)      Penularan PMS dapat terjadi,walaupun hanya sekali melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondon denagn penderita PMS.
3)      Tidak ada seorang pun yang kebal terhadap PMS
4)      Perempuan lebih mudah tertular PMS dari pasangannya dibandingkan sebaliknya, kaerna bentuk dari alat kelaminnya dan luas permukaannya yang terpapar oleh air mani pesangannya
5)      Infeksi atau borok pada alat reproduksi perempuan sering tersembunyi dan tidak mudah dilihat oleh petugas yang kurang terlatih
6)      ISR meningkat risiko penularan PMS / HIV / AIDS pada perempuan sepuluh kali lebih besar
7)      Beberapa PMS mungkin tidak menimbulkan gejala yang berarti pada perempuan, tetapi tetap dapat menularkan penyakit tersebut pada pasanngannya
8)      Tanda – tanda dan gejala PMS pada laki – laki biasanya sebagai luka atau duh tubuh, sehingga pengobatan dapat dilakukan lebih awal
9)      PMS sering tidak diobati dengan benar sehingga mengakibatkan penularan dan penderitaanyang berkepanjangan. Kebanyakan PMS dapat diobati bila pengobatannya tepat dan pada saat yang tepat pula
10)  Komplikasi PMS seperti kemandulan dapat dicegah bila PMS segera diobati
11)  Belum ada vaksin atau imunisasi untuk PMS
12)  PMS meningkatkan kemungkinan tertular HIV / AIDS sebanyak 4 kali.

2.2     Rantai Penularan PMS
          Virus, bakteri, protozoa, penyakit, dan jamur, manusia, bahan lein yang tercemar kuman, penis, vagina, lubang anus, kulit yang terluka, darah, dan selaput lendir. Yang paling umum adalah hubungan seks (penis-vagina, penis-lubang pantat, mulut-lubang pantat, mulut-vagina, mulut-penis).
          Hubungan seks, pemakaian jarum suntik secara bersama-sama dari orang yang terkena PMS ke orang lainnya (obat suntik terlarang, transfusi darah yang tidak steril, jarum tato dan lainnya). Orang yang berperilaku seks tidak aman. Makin banyak pasangan seks, makin tinggi kemungkinan terkena PMS dari orang yang sudah tertular.
            Menurut sumber lain, cara penularan PMS termasuk HIV / AIDS, dapat melalui :
1.      Hubungan seksual yang tidak terlindung, baik melalui vagina, anus, maupun oral. Cara ini merupakan cara paling utama ( lebih dari 90 % )
2.     Penularan dari ibu ke janin selama kehamilan ( HIV / AIDS, Herves, Sipilis ) pada persalinan ( HIV / AIDS, Gonorhoe, Klamidia ), sesudah bayi lahir  ( HIV / AIDS )
3.     Melalui transfusi darah, suntikan atau kontak langsung denagn cairan darah atau produk darah ( HIV / AIDS )

Perilaku yang berisiko tinggi terhadap penularan PMS, termasuk HIV / AIDS :
1.      Sering berganti – ganti pasangan seksual atau mempunyai satu atau lebih pasangan seksual baik yang dikenal atau yang tidak dikenal( misalnya dengan penjaja seksual )
2.     Pasangan seksual mempunyai pasangan ganda. Penularan dari ibu ke janin / bayinya sering bersumber dari pasangan / suami seperti ini
3.     Terus melakukan hubungan seksual, walaupun mempunyai keluhan PMS dan tidak memberitahukan kepada pasangannya tentang hal tersebut
4.     Tidak memakai kondom saat melakukan seksual dengan pasangan yang beresiko
5.     Pemakaian jarum suntik secara bersama – sama secara bergantian, misalnya pada penderita ketergantungan narkotika atau kelalaian petugas kesehatan dalam menjaga sterilitas alat suntik.

2.3     Jenis-jenis Penyakit Menular Seksual
Penyakit menular seksual (PMS) yang banyak terjadi di masyarakat, di antaranya berikut ini.

a.             INFEKSI HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS (HIV)
Human immunodeficiency virus (HIV) pertama kali dilaporkan menyebabkan penyakit pada tahun 1981. Sekarang di Amerika Serikat AIDS merupakan penyebab kematian ke lima pada wanita usia subur. Lebih parah lagi di New York AIDS merupakan penyebab kematian utama pada kelompok umur ini. AIDS sekarang merupakan krisis yang melanda seluruh dunia dengan jutaan penderita, terutama di negara-negara berkembang. Salah satu kesulitan mengenali infeksi HIV adalah masa laten tanpa gejala yang lama , antara 2 bulan hingga 5 tahun. Umur rata-rata saat didiagnosis infeksi HIV ditegakkan adalah 35 tahun.
     Virus berada dalam darah dan semua cairan tubuh dan ditularkan melalui kontak seksual (>70%), terpapar darah atau cairan tubuh yang terinfeksi secara parenteral atau masuknya virus secara transplasenta dari ibu ke janin. Kelompok dengan resiko tertinggi terhadap infeksi HIV adalah homoseksual, pria biseksual, penyalahgunaan obat-obatan intravena dan penderita hemofilia yang mendapat transfusi darah. Kelompok resiko tinggi lainnya adalah kaum prostitusi dan mitra heteroseksual pria yang berada dalam kelompok resiko tinggi. Semua darah harus di skrining terhadap HIV sebelum ditransfusikan untuk memperkecil risiko melalui transfusi. Wanita lebih mudah mendapat virus dari pria dibanding sebaliknya karena konsentrasi HIV dalam semen tinggi dan robekan mukosa pada introitus vagina saat hubungan seksual lebih sering terjadi dibandingkan kerusakan kulit penis.
     Meskipun antibodi anti-HIV berkembang dalam waktu 12 minggu setelah terpapar, 45%-90% orang yang terinfeksi HIV akan mengalami gejala-gejala infeksi akut serupa dengan infeksi mononukleosis dalam waktu beberapa bulan. Mereka mengalami penurunan berat badan, demam, keringat malam, faringitis, limfedenipati dan ruam makulopapuler eritematosa. Sebagian besar gejala ini akan hilang dalam beberapa minggu meskipun pasien tetap infeksius walau tanpa gejala. Sebagian akan berlanjut dan menimbulkan kumpulan gejala-gejala yang berkaiotan dengam AIDS (AIDS-related complex, ARC), dengan imunosupresi dini ( penurunan limfosit CD4+). ARC biasanya ditandai oleh limfadenopati generalisata, penurunan berat badan, diare, gangguan penyerapan dan penyusutan tubuh. Sebagian pasien mengalami imunosupresi lebih lanjut dan berkembang menjadi AIDS ( adanya satu atau lebih gejala berupa sepsis akut, infeksi oportunistik, sarkoma kaposi, kesulitan kognitif atau depresi, begitu diagnosis AIDS ditegakkan, angka kematian melebihi 90%. Kelainan imunologi yang berkaitan dengan AIDS meliput  (tetapi tidak terbatas dengan hal-hal ini ) limfopenia, penurunan sel T-helper, penurunan limfosit T, hipergamaglobulinemia dan perbandingan T4/T8 terbalik.
     Karena belum ada obat untuk HIV, terapi dewasa ini hanya memperlambat kemajuan penyakit. Karena itu penting sekali menekan upaya pencegahan. Disamping upaya untuk tidak melakukan hubungan seksual (abstinensia) atau hanya menjalin hubungan dengan satu mitra seksual yang diketahui tyidak terinfeksi,penggunan konkom lateks yang sudah dilumasi dengan nonoxynol 9 merupakan metode yang paling efektif dalam membertas resiko infeksi. Jika seorang wanita postif HIV, maka dia harus diberi nasehat untuk (1) tidak mendonorkan darah, plasam, jaringan atau organya, (2) menghindari kehamilan, (3) menjaga hubungan dengan satu pasangan dan (4) tekun menggunakan kondom yang sudah dilumasi dengan nonoxynol 9 selama kontak seksual apapun.
     Pemeriksaan antibodi HIV dimulai dengan pemeriksaan imunosorben terkait enzim (ELISA) dengan sensitivitas >95% dan spesifitas >99% jika telah berulangkali positif. Jika ELISA positif, harus dilakukan pemeriksaan western blot untuk mengkonfirmasi diagnosis. Hasil negatif palsu jarang terjadi kecuali pasien berada dalam tahap penyakit yang terlalu dini untuk membentuk antibodi. Penapisan HIV (setelah mendapat persetujuan pasien dan dijamin kerahasiannya) harus dianjurkan wanita-wanita dan kelompok berikut: penggunaan obat-obtan intravena, pekerja seks, mempunyai mitra seksual pria dengan HIV positif atau mempunyai resiko HIV, penderita penyakit menular seksual lainya, mendapat transdusi darah antara tahun 1978-1985, memiliki tanda-tanda dan gejala klinis HIV, penduduk negara dengan infeksi HIV heteroseksual endemis tinggi, penghuni tahanan dan wanita yang menggap dirinya beresiko.
     Kehamilan tampaknya tidak mengubah perjalanan penyakit HIV tetapi kemungkinan janin mendapat virus adalah 20%-50%. Neonatus dapat terinfeksi selama persalinan dan kelahiran melalui darah atau cairan dari tubuh ibu atau dapat terinfeksi selama menyusui. Cara pelahiran tidak mempengaruhi perkembangan AIDS pada anak. Penyakit akut yang berhubungan dengan HIV delam kehamilan dapat salah didiagnosis jika pemeriksaan serologis HIV tidak dilakukan. Jika infeksi HIV didiagnosis selama kehamilan, pengobatan harus ditunda karena adanya potensi teratogenetik pada obat-obatan yang digunakan. Wanita hamil yang terinfeksi harus menjalani tes penapisan untuk PMS lainnya sambil mengevaluasi adanya infeksi oportunistik. Dianjurkan melakukan pemeriksan serologis dasar untuk sitomegalovirus dan toksoplasmosis, uji kulit untuk TBC dan Rontgen dada.
       Perawatan wanita dengan HIV positif dan bayinya selama peripartum dan postpartum meliputi perlindungan bagi pekerja tenaga kesehatan dengan menggunakan panduan pengendalian infeksi universal (misalnya baju kedap air, sarung tangan, masker, kacamata, untuk mengatasi kemungkinan terpercik, penghisap dinding atau bola lampu). Pemasangan elektrode pada kulit kepala dan pengambilan sampel darah kulit kepala janin harus dihindari  merupakan tempat masuk virus HIV yang potendial jika janin belum terinfeksi). Jangan lakukan sirkumsisi jika neonatus positif HIV. Karena antibodi IgG anti HIV dapat menembus plasenta, pemeriksaan serologi bayi mungkin positif tanpa terinfeksi. Gambaran wajah abnormal pernah diuraikan pada sebagian bayi baru lahir dengan HIV positif, tetapi hal ini jarang terjadi. Jika terjadi AIDS pada neonatus / anak-anak, perjalanan penyakitnya lebih cepat dibandingkan dewasa dan kematian lebih banyak terjadi dalma waktu beberapa bulan dibanding beberapa tahun.
2.       GONORE
Neisseria gonorrhoeae ( salah satu penyebab PMS yang paling lazim) adalah diplokokus gram negatif yang biasanya berdiam dalam uretra, serviks, faring atau saluran anus wanita.. Infeksi terutama mengenai epitel kolumner atau transisional salurn kemih atau kelamin. Organisme ini sangat sulit untuk dikultur dan peka terhadap suasana kering, cahaya matahari, pemanasan dan sebagian besar desinfektan. Diperlukan media khusus (mmisalnya Thayer-Martin) untuk mencapai hasil yang optimal. Biakan saluran genital bawah biasanya didapat dengan memutar lidi kapas selama 15-20 detik jauh didalam saluran endoserviks. Jika dibuat usapan ektum, insiden keberhasilan meningkat dari 85% menjadi >90%. Pada infeksi saluran genital atas yang dibuktikan dengan biakan yang di dapat melalui laparoskopi, hanya kira-kira 50% biakan saluran genital bawah akan memperlihatkan N. Gonorrhoeae.
     Setelah terpapar oleh mitra seksual yang terinfeksi, sekitar 60%-90% wanita dan 20%-50% pria akan terinfeksi. Jika tidak diobati, 10%-17% wanita akan mengalami penyakit radang panggul (PRP). Jika wanita positif terinfeksi N.gonorrhoaea, ia juga kemungkinan 20%-40% mengalami infeksi klamidia, sifilis atau hepatitis.
     Gejala-gejala dini yang khas meliput discharge vagina, gangguan frekuensi miksi dan iritasi rektum. Sebagian melaporkan rasa panas seperti terbakar, gatal atau peradangan pada vulva, vagina, serviks atau uretra meskipun sebagian besar wanita tidak bergejala. Mungkin mnegenai duktus dan kelenjar bartholini yang dibuktikan dengan adanya pembengkakan atau pembentukan abses. Faringitis dan tonsilitis akut dapat terjadi teta[i tidak lazim. Jarang terjadi, karier yang tanpa gejala akan mengalami penyebaran infeksi dengan poliartralgia, tenosinovitis dan dermatitis atau meningitis atau endokarditis. Meskipun infeksi mata yang sering terjadi pada neonatus yang dilahirkan oleh ibu yang terinfeksi, oftalmitis pada dewasa dapat terjadi akibat autoinokulasi.
     Diagnosis dapat diperkiran jika pada apusan dengan pewarnaan dari tempat yang terkena menunjukan adanya diplokokus gram negatif intraseluler. Namun konfirmasi diagnostik setelah adanya kultur dalam media selektif penting dilakukan. Biakan untuk gonore harus mencangkup pemeriksaan resistensi penisilin karena 2%-3% strain di Amerika Serikat resisten terhadap penisilin. Kasus gonore harus di laporkan ke pejabat kesehatan setempat.
     Pasien dan semua mitra seksualnya harus diobati. Semua penyakit lain yang ditemukan bersamaan harus diobatijika ada. Regimen pengobatan untuk pasien dewasa yang dipilih untuk penyakit tanpa komplikasi, menurut Centers of Disease Control (CDC) adalah seftriason 250 mg IM, diikuti oleh doksisiklin 100 mg PO dua kali sehari selma 7 hari. Regimen alternatif meliputi (1) spektinomisinb 2g IM, diikuti oleh doksisiklin untuk pasien pasien yang tidak tahan terhadap seftriaxon (namun spektinomisin bukan merupakan terapi yang dapat diandalkan untuk infeksi faring, (2) siprofloksasin 0,5 g atau norfloksasin 0,8 mg per oral satu kali (hanya untuk yang tidak hamil), ditambah doksisiklin, (3) sefotaksin 1 gr atau seftiason 0,5 g IM, ditambah doksisiklin, (4) sefuroksin asetil 1 gr dengan probenesid 1 gr PO satu kali, ditambah doksisiklin pada kasus-kasus yang didapat yang didapat terbukti tidak menghasilkan penisilinase. Jika tetrasiklin merupakan kontraindikasi atau tidak dpat ditoleransi, dapat diberikan eritromisn etilsuksinat 800 mg PO empat kali sehari selama 7 hari. Karena munculnya organisme-organisme resisten, biakan ulangan harus dilakukan dlam waktu 7 hari setelah terapi selesai untuk memastikan kesembuhan.
     Penyakit yang menyebar memerlukan perawatan inap. Meningitis dan endokarditis harus dipastikan atau disingkirkan. Terapi yang dianjurkan atau disingkirkan. Terapi yang dianjurkan adalah seftriakson 1 g IM atau IV setiap hari atau sefotaksim atau seftriakson 1  gr IV setiapa 8 jam. Pasien yang alergi  terhadap obat-obatan beta laktamase dapat diobati dengan spektromisin 2 gr IM setiap 12 jam. Jika pada uji sensitivitas memastikan organisme ini sensitif terhadap penisilin, dapat diberikan ampisilin 1 g setiap 6 jam. Regimen apapun yang dipilih, pengobtan harus dilanjutkan selama 7 hari. Pengobatan peroral berupa sefuroksim asetil 0,5 g setiap 1 jam, Augmentin 0,65 g setiap 8 jam atau siprofloksasin 0,5 g setiap 12 jam (jika tidak hamil).
     Prognosis baik untuk gonore yang diobati dengan tepat, tetapi fertilisasi di masa mendatang mungkin terganggu.


3.       INFEKSI KLAMIDIA
Chlamydia trachomatis adalah mikroorganisme intraseluler obligat dengan dinding sel menyerupai bakteri gram negatif. Meskipun dikelompokan dalm bakteri, namun chlamydia mengadung DNA dan RNA, dan melakukan pembelahan biner, hanya tumbuh intraseluler seperti virus. Karena kebanyakan serotipe C.trachomatis hanya menyerang sel epitel kolumner kecuali serotipe L yang agresif, tanda-tanda gejala yang terjadi cenderung terlokalisir ditempat terinfeksi (misalnya mata atau saluran genetal) tanpa adanya invasi kejaringan dalam.
·                Servisitis
Infeksi C.trachomatis pada serviks dan tuba terjadi pada wanita usia muda (2-3 kali lebih tinggi pada wanita berumur <20 tahun ), mempunyai banyak mitra seksual, status sosial ekonomi rendah, menderita PMS lain dan pengguna kontrasepsi oral. Kontrasepsi penghalang cenderung menurunkan angka infeksi. Insiden pada wanita hamil mencapai 8%-12%.
Tanda-Tanda dan Gejala
Discharge mukopurulen khas terjadi pada infeksi serviks pada klamidia dan serviks memperlihatkan adanya peradangan hipertrofi (servisitis mukopurulen). Infeksi dapat tidak bergejala pada 15% wanita tidak hamil yang aktif secara seksual.
Penemuan Laboratorium
Metode deteksi yang paling sering digunakan adalah uji antibodi monoklonal terkonjugasi fluoresen langsung (tersedia dalam bentuk kit). Pemeriksaan ini cepat, sensitif (85%-93%) dan spesifik (kira-kira 99%). Biasanya spesimen diperoleh dengan cara yang sama untuk gonore. Diperlukan biakan jaringan untuk C.trachomatis dan karena harganya mahal, ketersediaanya terbatas, dan mengalami penundaan selama 2-6 hari, maka jarang dilakukan. Meskipun pewarnaan spesimen konjungtiva dan Giemsa pada neonatus cukup memuaskan untuk mengenali badan inklusi klamidia, tehnik ini hanya 40%akurat untuk infeksi genital.

Diagnosis Banding
N.gonorrhoeae merupakan satu-satunya organisme untama lainya yang menyebabkan servisitis mukopurulen. Karena itu uji antibodi fluoresen atau biakan pada medium selektif harus dilakukan untuk diagnosis banding. Kedua organisme dapat ada bersama-sama.
Pengobatan
Angka kesembuhan >95% dapat dicapai dengan menggunakan salah satu dari beberapa regimen ini. Regimen yang disukai adlah tetrasiklin 500 mg PO rmpat kali dalam 7 hari atau doksisiklin 100 mg dua kali sehari selama 7 hari. Jika tetrasiklin merupakan kontraindikasi, dapat diberi eritromisin basa 500 mg empat kali sehari selama 7 hari atau eritromisin etilsuksinat 800 mg empat kali sehari selama 7 hari.
Komplikasi
Komplikasi utama infeksi serviks oleh C. Trachomatis adalah salphingitis. Sayangnya, jika pasien hamil dan tidak diobati, konjungtivitis klamidia dapt terjadi pada 50% neonatus yang dilahirkan pervaginam 100% mengalami pneumonitis dengan onset lambat. Kelahiran prematur dan endometritis pospartum dini juga merupakan masalah yang menyertai.

·                Salpingitis
Salpingitis karena C. Trachomatis mungkin sama seringnya dengan salphingitis karena N. Gonorrhoeae. Namun terdapat perbedaan patofisiologi dan gejala yang jelas. Salphingitis karena C. Trachomatis ( yang juga merupakan infeksi asenden) mempunyai onset tersembunyi, biasanya menyebabkan gejala minimal dan organisme menetap di dalam tuba  (terutama dlam epitel) selama berbulam-bulan. Sebaliknya infeksi N. Gonorrhoeae mempunyai onset akut, menyebabkan gejala-gejala yang lebih akut dan hanya tinggal didalam tuba selama 24 – 48 jam. Infeksi gonore tampaknya memiliki efek sitotosik yang jauh lebih besar pada epitel tuba.
        Meskipun salphingitis karena C. Trachomatis biasanya menyebabkan gejala yang lebih sedikit, namun gambaran umum tuba bahkan mengarah ke keterlibatan yeng lebih parah. Salphingitis merupakan akibat servisitis karena C. Trachomatis. Pengobatan salphingitis karena C. Trachomatis dapat diberikan dengan tetrasiklin atau erittromisin. Sekeule salphingitis karena C. Trachomatis meliputi kehamilan ektopik  dan infertilitas meskipun insiden pasti dari komplikasi ini tidak diketahui.

·                Limfogranuloma Venereum
C. trachomatis serotipe L menyebabkan limfogranuloma venereum yang biasanya terjadi di daerah tropis atau subtropis ( termasuk Amerika Serikat bagian selatan). Masa inkubasi adalah 7-21 hari, dan pria 6 kali lebih sering terkena dibanding wanita. Di Amerika Serikat, <500 kasus/ tahun yang dilaporkan dan paling banyak terjadi pada pria.
        Limfogranuloma venereum mulai dari erupsi vesikopustuler yang berkembang menjadi ulserasi vulva dan inguinal yang sangat nyeri. Limfedema dan invasi bakteri sekunder. Secara klinis, adanya bagian yang lebih rendah antar kelompok modus inguinalis dan lipatan genitokruralis meghasilkan penampakan lipatan genitokrural ganda (tanda groove). Terdapat indruasi keras bewarna kemerahan hingga biru keunguan yang terjadi 10-30 hari setelah terpapar. Limfedema anorektal menyebabkan defekasi yang sangat nyeri dan feses yang disertai darah. Pada perkembangan penyakit akan terbentuk striktur rektum yang progresif yang bahkan dapat mencegah defekasi. Striktur vagina dapat menyebabkan distorsi dan penyempitan sehingga menghasilkan dispareunia. Sakit kepala, artalgia, mengigil dan kejang perut dapat terjadi belakangan. Komplikasi lanjut berupa elefantiasis vulva.
        Diagnosis dipastikan dengan biakan jaringan dan penentuan serotipe, tetapi fiksasi komplemen untuk Chlamydia dengan titer ≥1:16 sudah merupakan dugaan, dengan meningkatnya titer (>1:64 suh merupakan diagnostik). Loma inguinale, tubkulosis sifilis, chancroid, kanker vulva, herpes genetali dan penyakit Hodgkin. Dengan adanya gejala-gejala sistemik. Harus dipertimbangkan kemungkinan meningitis, artritis, peritonitis, dan plueritis.
        Pengobatan limfogranulomavenerum adlah doksisiklin 100g PO du kalisahari selama 21 hari. Penyakit yang menetap memerlukan pengobatan tahap kedua pengobatan alternatif meliputi tetrasiklin, eritromisin atau sulfisoksizol, masing-masing 500mg PO empat kali selama 1 hari setela penyakit ini dapat dikendalikan, mungkin diperlukan pembedahan (misalnya vulvektomi parsial). Abses jangan dieksisi tetapi di aspirasi. Striktur ani harus dilatsi setiap minggu. Mungkin diperlukan kolostomi pengalihan untuk striktur ani berat.

1.             SIFILIS
Sifilis merupakan penyakit yang disebabkan oleh spirokaeta Treponema pallidum yang ditularkan melalui kontak langsund dengan lesi basa yang infeksius. Organisme ini dapat  menembus membran yang intak atau kulit yang terkelupas atau di dapat melalui transplsenta. Satu kali kontak seksual dengan mitra seksual yang terinfeksi memberi kemungkinan 10% menderita sifilis. Penyakit yang tidak di obati akan berlanjut dari sifilis primer ke sifilis sekunder, sifilis laten dan akhirnya sifilis tersier. Sifilis kongenital mempunyai perjalanan penyakit ini dan gejala-gejalanya sendiri. Kira-kira ada 280.000 kasus sifilis di Amerika Serikat setiap tahunya.
Lesi primer sifilis adalah chancre keras, papula yang padat dengan indurasi tanpa rasa sakit atau ulkus tepi meninggi yang muncul 10 hari hingga 3 bulan (rata-rata 3 minggu) setelah masuknya treponema ke dalam tubuh. Chancre ini dapat terletak di genetallia eksterna, serviks atau vagina atau daerah kulit manapun atau membran mukosa tubuh tetapi sering kali tidak terlihatpada wanita. Lesi primer menetap selama 1-5 minggu dan kebanyakan diikuti penyembuhan spontan. Setiap lesi yang dicurigai chancre harus di lakukan pemeriksaan lapangan gelap, untuk mencari adanya treponema karena tidak tersedia biakan. Uji serologis untuk sifilis harus dilakukan setiap seminggu selama 6 mingggu atau sampai positif (biasanya reaktif 1-4 minggu setelah muncul chancre.
Erupsi kulit generalisata (makula, makulopapuler, papuler, atau pustuler) atau sifilis sekunder muncul 2 minggu hingga 6 bulan setelah lesi primer. Ruam yang terjadi difus, bilateral, berupa erupsi papuloskuamosa simetris yang dapat mengnai telapak tangan dan kaki. Terdapat lesi perineum (papula yang basah, kondiloma latum) dan positif untuk treponema pada pemeriksaan lapangan gelap atau penelitian imunofluoresen. Mungkin terdapat bercak mukkosa lainnya dismping alopesia setempat, hepatitis atau nefritis. Limfadenopati generalisata khas terjadi. Lesi sekunder menetap selama 2-6 minggu dan sembuh spontan. Uji serologi hampir selalu positif pada tahap ini.
Sifilis laten adalah sifilis yang tidak di obat-obati setelah gejala-gejala sekunder menghilang. Pasien ini tetap infeksius selama 1-2 tahun dan dapat kambuh menyerupai tahap sekunder. Keadaan laten ini dapat berlangsnung seumur hidup atau berakhir dengan berkembangnya sifilis tersier yang terjadi pada sepertiga pasien.
Sifilis tersier dintandai dengan adanya lesi destruktif pada kulit, tulang, sistem kardiovaskuler atau gangguan sistem saraf. Sifilis tersier dapat berakibat fatal pada 25% penderita.
Meskipun perjalan sifilis maternal tidak diubah oleh kehamilan, penyekit ini seringkali tidak dikenali kecuali dideteksi dengan penapisan serologis. Treponema dapat menembus plasenta selama kehamilan tetapi jika penyakit ini ditemukan dan di obati pada umur kehamilan <18 minggu, tampaknya janin hanya akan mengalami beberapa sekuele. Stelah 18 minggu, terjadi tanda-tanda klasik kongenital pada janin. Risiko infeksi janin lebih besar selama stadium sekunder dibanding stadium ptimer dan laten. Insiden lahir mati dan persalinan prematur meningkat dengan adnya sifilis. Mungkin terdapat hidramnion. Gambaran hidropik dan berlilin menunjukan keterlibatan plasenta. Infeksi kehamilan lanjut dapat menyebabkan infeksi pada janin atau neonatus pada 40%-50% kasus.
Biasanya bayi baru lahir dengan sifilis kongenital mungkin mengalami keterlambatan pertumbuhan dengan wajah keriput karena penurunan lemak subkutan. Kulit mungkin bewarna kecoklatan (cafe-au-lait). Lesi sifilis kongenital dini yang paling umum pada bayi baru lahir adalah ruam bulosa, yang disebut pemfigus sifilitik. Gelembung besar dapat terjadi pada seluruh telapak tangan dan telapak kaki terkadang diseluruh tempat lain. Cairan seropurulen dari lesi dipenuhi oleh treponema. Mukositis yang identik dengan sifilis sekunder pada pasien yang lebih tua dapat diamati pada mulut dan saluran pernapasan atas pada bayi baru lahir. Dishcarge nasal (“snuffle sifilitik”) sangat infeksius karena mengandung sejumlah besar T.pallidum.
Tulang biasanya menunjukan tanda-tanda osteokondritis dan pada pemeriksaan sinar-X khas ditemui garis epifisis yang tidak beraturan (garis Guerin). Kelainan mata dan organ lain atau sistem saraf pusat dapat muncul saat lahir atau defek ini dapat terjadi pada kemungkinan kasus-kasus yang di obati. Setiap bayi dengan stigmata sifilis harus ditempatkan diruangan isolasi sampai diagnosis pasti dapat ditegakkan dan diberi pengobatan yang tetap.
Karena uji serologi menilai antibodi IgG yang di dapat secara transplasenta, bayi akan positif jika ibunya positif. Pengobatan neonatus yang efektif ditandai oleh penurunan titer secara progresif selama beberapa minggu sampai beberapa bulan.
Penemuan Laboratorium
Untuk memperlihatkan organisme treponema diperlukan lesi kulit yang basah untuk pemeriksaan lapangan gelap, pewarnaan imunofluoresen (apusan kering) atau perawatan perak untuk treponema dalam spesimen biopsi. Karena organisme hanya dapt ditunjukan dalam waktu singkat, diagnosisnbiasanya dibuat berddasarkan riwayat uji serologis.
Penapisan untuk sifilis terutama dilakukan dengan pemeriksaan antibodi non treponema non spesifik (misalnya VDRL,RPR). Semua beresiko inggi sebaliknya diperiksa pada kunjungan pertama. Pasien-pasien beresiko tinggi sebalikya diperiksa pada umur kehamilan 28-36 minggu dan saat melahirkan. Pemeriksaan ini akan positif 3-6 minggu setelah infeksi. Titer ini tinggi pada sifilis sekunder dan titer akan turun hingga rendah atau menjadi negatif pada sifilis lanjut. Titer yang ditemukan turun empat kali lipat atau menurun pada sifilis dini menunnukan pengobatan yang adekuat.
Hasil pemeriksaan positif palsu bisa terjadi pada penyakit kolagen, mononukleosis infeksiosa, malaria, lepra, penyakit demam, vaksinasi, kecanduan obat, usia lanjut dan kehamilan. Titer yang terlihat pada pemeriksaan positif palsu biasanya rendah. Namun pada setiap hasil pemeriksaan yang positif harus dilakukan pemeriksaan antibodi anti treponema. Uji antibodi anti treponema yang paling luas digunakan adalah uji absorbsi antobodi treponema fluoresen (FTA-ABS). Uji ini akan tetap positif meskipun telah mendapatkan pengobatan. Karenna itu tidak dilakukan penentuan titer.
Diagnosis Banding
Diagnosis banding sifilis primer adalah chancroid, granuloma inguinale, limfogranuloma venerum, heros, karsinoma, skabies, trauma, liken planus, proriasis, erupsi obat, aftosis, infeksi jamur, sindroma Reiter dan penyakit bowen.
Diagnosis banding sifilis sekunder adalah pitriasis rosea, psoriasis, liken planus, tinea versikolor, erupsi obat, erupsi “id”, perleche, infeksi parasit, iritis, neurorentinitis, kondiloma akuiminata, eksentema akut, mononukleosis infeksiosa, alopesia dan sarkoidosis.
Pengobatan
Pengobatan harus dimulai jika sudah mulai terpapar meskipun belum terdapat bukti adanya penyakit. Selama hamil, lebih baik mengobati semua kecurigaan penyakit dari pada beresiko menderita sifilis kongenital.
Orang yang kontak dengan psien sifilis dini (primer, sekunder, dan laten <1 tahun) harus diobati dengan salah satu regimen berikut : (1)benzhatin penisilin G 2,4 juta unit IM, (2) tetrasiklin hidroklorid 500 mg PO empat kali sehari atau doksisiklin 100 mg dua kali sehari selama 14 hari (jika alergi penisilin tetapi tidak hamil),  atau (3) eritromisin (stearat, etilsuksinat atau basa) 500 mg PO empat kali sehari selama 15 hari (total 30 g) jika alergi pppenisilin dan ttidak dapat minum tetrasiklin. Terjadi demam singkat (<24 jam) pada 50%-75% pasien yang mendapat terapi penisilin, mungkin karena pelepasan produk toksik treponema. Demam yang terjadi 4-12 jam setetlah injeksi salah reaksi Jarisch-Herxheimer.
Sifilis kongenital di obati dengan benzhathin penisilin G 50.000 unit/kg IM jika bayi sudah tidak bergejala dan tidak ada tanda neurosifilis. Sifilis kongenital yang tidak menimbulkan gejala atau neurosifilis yang diobati dengan penisilin G kristal yang di encerkan 50.000 unit/kg/hari IV dibagi dalam 2 dosis selama 10 hari atau penisilin prokain G yang diencerkan selama 50.000 unit/kg setiap hati selma 10 hari.



2.             CHANCROID
Chancroid (chancre lunak) disebabkan oleh kuman batang gram negatif Haemophilus ducreyi dan jarang ditemui di Amerika Serikat (<1500 kasus/tahun). Infeksi pada wanita dimulai dari lesi papula atau vesikopustuler pada perineum, serviks atau vagina 3-5 hari stelah terpapar. Lesi berkembang selama 48-72 jam menjadi ulkus dengan tepi tidak rata berbentuk piring cawan yang lunak. Beberapa ulkus dapat berkembang menjadi satu kelompok. Discharge kental yang dihasilkan ulkus berbau busuk dan infeksius. Lebih dari 50% pasien mengalami limfedenitis inguinal yang sangat nyeri yang dapat menjadi nekrotik dan mengering spontan. Aspirasi pus dari bubo dapat mengandung organisme. Sifilis harus disingkirkan meskipun diagnosis banding juga meliputi herpes simpleks, limfogranuloma venerum dan granuloma inguinale.
Pengobatan meliputi mandi berendam dalam posisi duduk. Dengan air panas dan sabun ditambah antibiotika. Regimen pengobatan bervariasi tergantung kepekaan kuman. Seftriason 250 mg IM setiap hari, eritromisin 50 mg PO  empat kali sehari dan trimetoprim (160 mg)/sulfametoksazol (800mg) PO dua kali sehari cukup efektif. Pengobatan harus dilanjutkan selama minimal 10 hari sampai ulkus dan nodus limfe sembuh. Nodus berabses lebih baik diaspirasi dibanding insisi dan drainase.

3.             GRANULOMA INGUINALE
Granuloma inguinale disebabkan oleh Calymmatobacterium granulomatis penemuan yang khas dalam lesi adalah badan Donovan (bakteri yeng terbungkus dalam lekosit mononuklear). Hampir tidak pernah di jumpai di Amerika Serikat (kira-kira 100 kasus/tahun) tetapi umum terjadi di India, Brazil dan Hindia Barat. Masa inkubasi 1-12 minggu. Granuloma inguinale dapat menyebar melalui kontak seksual maupun nonseksual yang berulang.
Penyakit biasanya terbatas di daerah vulva dan inguinal tetapi dapat mengenai serviks, uterus, ovarium atau mulut. Dikenal sebagai papul atau nodul yang tanpa gejala, mengalami ulserasi sehingga membentuk daerah granuler kemerahan dengan tepi tajam. Ulkus mengeluarkan discharge yang berbau busuk. Penyembuhan sangat lamban. Tetpai hanya sedikit menimbulkan gejala lokal dan sistemik. Ulkus satelit dapat bersatu membentuk satu ulkus besar. Bubo dapat terjadi demikian. Dapat menimbulkan nyeri jika terjadi di uretra dan anus.
Kompilasi lanjut dapat berupa disoareunia jika introituss menyempit karena penyakit kronis. Diagnosis banding meliputi karsinoma, chancroid, limfogranuloma venerum dan sifilis. Diagnnosis dipastikan dengan menemukan badan Donavan dalam spesimen biopsi atau apusan pewarnaan wright, giemsa atau perak.
Obat pilihan untuk pengobatan granuloma inguinale adalah tetrasiklin 500 mg empat kali sehari selma minimal 21 hari. Pilihan lain adalah eritromisin 500 mg empat kali sehari selama 14-21 hari, doksisiklin 100 mg dua kali sehari selama 21 hari atau sulfometoksazol 1 gr dua kali sehari selma 21 hari.

2.4     Upaya Pencegahan PMS
2.4.1 Upaya Pencegahan
Ada dua cara untuk menolong mencegah terjadinya infeksi PMS. Cara yang paling meyakinkan adalah tidak mengadakan hubungan seksual sama sekali dengan upaya yang disebut pemantangan. Jika upaya pemantangan bukan pilihan yang dianggap mudah, praktik-praktik hubungan seksual yang aman harus diterapkan. Hal tersebut di antaranya adalah tidak mengadakan hubungan seksual dengan sembarang orang.
Pasangan suami istri usahakan selalu memakai alat kontrasepsi saat berhubungan seksual. Meskipun tidak mudah, mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan seks yang aman (safe sex) perlu terus ditingkatkan, sehingga terjadi komunikasi yang jujur dan terbuka.
Lebih jauh lagi diperlukan adanya upaya peningkatan kesadaran masyarakat akan bahaya PMS dari segi moral. Pendidikan seks bagi anak-anak sekolah dan remaja pun perlu ditingkatkan agar mereka lebih waspada dalam menjalani kehidupan pergaulan remajanya.

2.4.2  Usaha Pencegahan dan Pemberantasannya
Penyakit kelamin bukan saja merupakan penyakit menular yang harus diberantas menurut garis-garis epidemiologis, tapi juga merupakan masalah sosial yang mempunyai sifat yang sangat kompleks. Dalam usaha pencegahan dan pemberantasannya, diperlukan kerja sama yang baik dengan instansi-instansi lain seperti pendidikan, sosial, agama, kepolisian, dan sebagainya.
Dalam garis besarnya, usaha-usaha pencegahan dan pemberantasannya dijalankan dengan cara sebagai berikut.
a.       Usaha-usaha yang ditujukan terhadap penderita dengan pengobatan, penyembuhan, dan
menghilangkan sumber penularan. Untuk ini perlu proses berikut.
1)  Case finding, yaitu untuk mencari penderita dalam masyarakat dengan jalan pemeriksaan.                  
2)  Contact tracing, yaitu menanyakan kepada penderita, siapa saja yang telah ia tularkan agar dapat diusut.
b.    Pengawasan sumber penularan mengingat bahwa sebagian besar sumber penularan adalah dari wanita tuna susila (WTS), maka perlu diusahakan lokalisasi WTS agar dapat diberikan pengobatan secara periodik.
c.    Pendidikan   dan   penerangan   kepada masyarakat. Masyarakat perlu mengetahui dan menyadari bahaya-bahaya penyakit kelamin untuk dirinya, keluarga, dan keturunannya.

Menurut sumber lain, cara pencegahan PMS :
1.      Melakukan hubungan seksual hanya dengan pasangan yang setia
2.     Menggunakan kondom ketika melakukan hubungan seksual
3.     Bila terinfeksi PMS mencari pengobatan bersama pasangan seksual
4.     Menghindari hubungan seksual bila ada gejala PMS, misalnya borok pada alat kelamin, atau keluarnya duh ( cairan nanah ) dari tubuh.

2.5     Peran Serta Tenaga Kesehatan dalam Pencegahan dan Penanggulangan PMS
Disilah kita bisa melihat peran tenaga kesehatan masyarakat dan fungsi funsinya, tidak hanya pemberantasan penyakit menular saja yang akan dilaksanakan, malah lebih.
Inilah peran peran umum tenaga kesehatan masyarakat :
a.    mengumpulkan, mengolah data dan informasi, menginventarisasi permasalahan serta melaksanakan pemecahan permasalahan yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan masyarakat;
b.    merencanakan, melaksanakan, mengendalikan, mengevaluasi dan melaporkan kegiatan Puskesmas;
c.    menyiapkan bahan kebijakan, bimbingan dan pembinaan serta petunjuk teknis sesuai bidang tugasnya;
d.   melaksanakan upaya kesehatan masyarakat;
e.    melaksanakan upaya kesehatan perorangan;
f.     melaksanakan pelayanan upaya kesehatan/ kesejahteraan ibu dan anak, Keluarga Berencana, perbaikan gizi, perawatan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pemberantasan penyakit, pembinaan kesehatan lingkungan, penyuluhan kesehatan masyarakat, usaha kesehatan sekolah, kesehatan olah raga, pengobatan termasuk pelayanan darurat karena kecelakaan, kesehatan gigi dan mulut, laboratorium sederhana, upaya kesehatan kerja, kesehatan usia lanjut, upaya kesehatan jiwa, kesehatan mata dan kesehatan khusus lainnya serta pembinaan pengobatan tradisional;
g.    melaksanakan pembinaan upaya kesehatan, peran serta masyarakat, koordinasi semua upaya kesehatan, sarana pelayanan kesehatan, pelaksanaan rujukan medik, pembantuan sarana dan pembinaan teknis kepada Puskesmas Pembantu, unit pelayanan kesehatan swasta serta kader pembangunan kesehatan;
h.    melaksanakan pengembangan upaya kesehatan dalam hal pengembangan kader pembangunan di bidang kesehatan dan pengembangan kegiatan swadaya masyarakat di wilayah kerjanya;
i.      melaksanakan pencatatan dan pelaporan dalam rangka sistem informasi kesehatan;
j.      melaksanakan ketatausahaan dan urusan rumah tangga UPT;
k.    melaksanakan analisis dan pengembangan kinerja UPTD;
l.      melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas.

Dan inilah funsi dan peran tenaga kesehatan masyarakat dalam pemberantasan penyakit menular :

Di era gllobalisasi,dengan tingkat kebebasan yang longgar dari para orang tua dan ketidak tahuan remaja tentang penyakit menular seksual yaitu salah satunya HIV/AIDS yang banyak terjadi pada kalangan kaum remaja. Pada dasarnya remaja tidak memiliki pengetahuan tentang penyakit menular seksual dan umumnya para remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi,dan selalu ingin mencoba hal baru.
Sebenarnya dari fakta dilapangan masyarkat pada umumnya hanya mengetahui bahwa HIV/AIDS itu hanya bisa terjadi penularan melalui hubungan intim saja padahal penyakit ini bisa saja tertular melalui hal-hal yang berhubungan dangan tingkah laku fisik seseorang,seperti berciuman,terkena tetesan keringat penderita yang bersentuhan dengannya apalagi jika orang tersebut dalam keadaan tidak sehat(kurang sehat),dan bisa juga tertular melalui terkena darah penderita penyakit menular seksual(PMS).
 Dalam hal ini dan untuk menurunkan angka penderita PMS,dibutuhkan peran serta orang tua,keluarga,lingkungan dan tenaga kesehatan. peran tenaga kesehatan sebaiknya memberikan ataupun mengadakan penyuluhan-penyuluhan pada semua lapisan masyarakat umumnya dan kalangan remaja khususnya yang sangat rentan terhadap PMS.
Penyakit menular seksual (PMS) masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian dalam penanggulangannya. Penyakit HIV/AIDS sebagai salah satu PMS, yang pertama kali ditemukan pada tahun 1987 menunjukkan kecenderungan meningkat dan meluas pe­-nyebarannya.
 Terdapat kaitan yang erat antara peningkatan penyakit HIV/AIDS dengan meningkatnya penyebaran penyakit TB-Paru, karena menurunnya sistem kekebalan tubuh. Sampai dengan bulan November 1997 secara keseluruhan tercatat 152      orang penderita AIDS dan 450 orang terinfeksi HIV. Penanggulangan AIDS kegiatannya diintegrasikan dengan pemberantasan PMS, meliputi sero survai AIDS dan sifilis, dan pemeriksaan (skrining) donor darah.
Kegiatan lainnya berupa penyuluhan tentang pencegahan HIV/AIDS melalui berbagai  media massa.  Selama  kurun   waktu    lima   tahun  terakhir, telah dilaksanakan sero survai HIV/AIDS dan sifilis yang mencakup sekitar 432 ribu sediaan, yaitu 122 ribu sediaan pada tahun 1993/94 dan 310 ribu sediaan selama empat tahun Repelita VI.
Program pembangunan kesehatan yang dilaksanakan telah berhasil meningkatkan derajat kesehatan masayarakat secara cukup bermakna, walaupun masih dijumpai berbagai masalah san hambatan yang akan mempengaruhi pelaksanaan pembangunan kesehatan. Oleh karena itu diperlukan adanya reformasi di bidang kesehatan untuk mengatasi ketimpangan hasil pembangunan kesehatan antar daerah dan antar golongan, derajat kesehatan yang masih tertinggal dibandingkan dengan engara-negara tetangga dan kurangnya kemandirian dalam pembangunan kesehatan.
Reformasi dibidang kesehatan perlu dilakukan mengingat lima fenomena yang berpengauh terhadap pembangunan kesehatan. Pertama, perubahan pada dinamika kependudukan.
Kedua, Temuan-temuan ilmu dan teknologi kedokteran. Ketiga, Tantangan global sebagai akibatdari kebijakan perdagangan bebas, revolusi informasi, telekomunikasi dan transportasi. Keempat, Perubahan lingkungan. Kelima, Demokratisasi………………………….
          Perubahan pemahaman konsep akan sehat dan sakit serta semakin maju IPTEK dengan informasi tentang determinan penyebab penyakit telah menggugurkan paradigma pembangunan kesehatan yang lama yang mengutamakan pelayanan kesehatan yang bersifat kuratif dan rehabilitatif. Paradigma pembangunan kesehatan yang baru yaitu Paradigma Sehat merupakan upaya untuk lebih meningkatkan kesehatan masyarakat yang bersifat proaktif. Paradigma sehat sebagai model pembangunan kesehatan yang dalam jangka panjang diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk mandiri dalam menjaga kesehatan melalui kesadaran yang lebih tinggi pada pentingnya pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif………………………………………….
         Dalam Indonesia Sehat 2010, lingkungan yang diharapkan adalah yang kondusif bagi terwujudnya keadaan sehat yaitu lingkungan yang bebas dari polusi, tersedianya air bersih, sanitasi lingkungan yang memadai, pemukiman yang sehat, perencanaan kawasan yang berwawasan kesehatan serta terwujudnya kehidupan masyarakat yang saling tolong menolong. Perilaku masyarakat Indonesia Sehat 2010 yang diharapkan adalah yang bersifat proaktif untuk memlihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit serta berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat.
Kesehatan reproduksi adalah keadaan sejahtera fisik, mental, sosial secara utuh, tidak semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala hal yang berkaitan dengan sistim, fungsi, dan organ reproduksi. Pencapaian kesehatan reproduksi mencakup pencapaian kehidupan seksual yang memuaskan dan aman, serta pasangan atau individu bebas menentukan keinginan mempunyai anak, kapan, dan berapa jumlahnya.
Semua orang, baik laki-laki maupun perempuan mempunyai hak dalam mengatur jumlah keluarganya, termasuk memperoleh penjelasan yang lengkap tentang cara-cara kontrasepsi sehingga dapat memilih cara yang tepat dan disukai. Selain itu, hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan reproduksi lainnya, seperti pelayanan antenatal, persalinan, nifas dan pelayanan bagi anak, kesehatan remaja dan lain-lain. Untuk itu dibutuhkan perangkat, teknik, dan sistim pelayanan yang menjamin terpeliharanya kesehatan reproduksi seseorang, baik berbentuk upaya pencegahan maupun  pengendalian gangguan atau penyakit reproduksi.
Kebijakan nasional kesehatan reproduksi di Indonesia pada saat ini memprioritaskan pelayanan empat komponen atau program terkait yaitu Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir, Keluarga Berencana, Kesehatan Reproduksi Remaja, serta Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular Seksual (PMS), termasuk HIV/AIDS (Human Immuno-deficiency Virus/Acquired Immuno-deficiency Syndrome)  yang disebut Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial (PKRE).
Pelaksanaan PKRE bertumpu pada pelayanan dari masing-masing program terkait yang sudah tersedia di tingkat pelayanan dasar, dan paket PKRE ini merupakan keterpaduan berbagai pelayanan dari program terkait tersebut. Bentuk pelayanan terpadu lebih berorientasi kepada kebutuhan klien.
Adanya perbedaan sasaran dalam tiap komponen kesehatan reproduksi dan perbedaan masalah pada tiap klien, menuntut adanya pelayanan yang komprehensif, namun spesifik, dan sesuai dengan kebutuhan klien. Dengan demikian setiap komponen program kesehatan reproduksi memasukkan unsur komponen kesehatan reproduksi lainnya untuk mendukung terciptanya pelayanan kesehatan reproduksi yang integratif atau terpadu pada klien dan sesuai dengan kebutuhan klien.
Penyakit Menular Seksual  merupakan salah satu infeksi saluran reproduksi (ISR) yang ditularkan melalui hubungan kelamin.  Dari analisis data yang dihimpun di Indonesia, prevalensi PMS tidak didokumentasikan secara nasional. Tetapi perlu disadari, angka prevalensi ISR di Indonesia cukup tinggi. Beberapa tahun terakhir ini tampak mulai kecenderungan meningkatnya prevalensi PMS.
Penelitian pada klien KB di Jakarta Utara (1997) mendapatkan angka Kandidiasis 22%, Bakterial Vaginosis 9,9%, Trikomoniasis 4,5%, Gonore 1,2%, Klamidia 9,3% dan sifilis 0,8% ( Iskandar,1998). Studi di Surabaya, Jawa Timur (2003) mendapatkan hasil Kandidiasis 8,6%, Bakterial vaginosis 24,8%, Trikomoniasis 23,6%, Gonore 26,9%, Klamidia 22,1% dan Sifilis 9%. Sedangkan studi yang dilakukan di Jakarta (2006) mendapatkan hasil Bakterial Vaginosis 13,3%, Klamidia 10,2%, Herpes Genital 9,3%, HIV 1,2% dan Sifilis 0,2% (YMI 2007).
Data PMS di Kabupaten Ciamis  sampai saat ini belum dapat memberikan gambaran epidemiologis PMS sehingga belum dapat memperlihatkan besarnya masalah PMS yang akurat yang dapat dipergunakan untuk memperkirakan besarnya derajat epidemi HIV/AIDS disuatu daerah dan untuk mengetahui dampak program intervensi PMS. Seperti halnya masalah PMS di Ciamis bagaikan “Teori Gunung Es di Lautan”
Beberapa Puskesmas di Kabupaten Ciamis  sudah melaksanakan paket PKRE dengan salah satu program yaitu Penanggulangan PMS termasuk HIV/AIDS melalui intervensi seperti Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE), pengobatan PMS secara pendekatan sindrom maupun berdasarkan hasil Laboratorium walau sarana laboratorium yang ada masih minim.
Puskesmas  memulai paket PKRE sejak beberapa tahun terakhir, didukung dengan pelatihan program-program PKRE yang diberikan pada petugas Puskesmas, sosialisasi, monitoring dan evaluasi paket PKRE yang diikuti petugas Puskesmas tersebut secara rutin. Dari kegiatan tersebut berarti secara teknis petugas puskesmas sudah melaksanakan alur pelayanan klinis paket PKRE.
Beberapa kasus Gonorhoe positif yang terjaring di beberapa Puskesmas  Kabupaten Ciamis. Beberapa kasus penyakit, baik penyakit yang baru maupun penyakit lama mengalami perubahan gejala, sehingga memerlukan metode yang lebih baik pada sistim pelayanan kesehatan. Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah dan hasilnya banyak mengalami hambatan, karena belum berhasilnya promosi kesehatan dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan. Faktor yang mempengaruhi pelayanan adalah faktor tenaga kesehatan yaitu orang yang mengabdikan di bidang kesehatan, memiliki pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan pelatihan khusus seperti, tenaga pemasang alat kontrasepsi Keluarga Berencana, pemeriksaan penyakit menular seksual dan keahlian khusus lainnya. Hal inilah yang membedakan tenaga bidang kesehatan dengan tenaga lainnya, sehingga para tenaga bidang kesehatan ini harus mempunyai pendidikan dan keahlian  melakukan pekerjaan tertentu yang berhub                  ungan dengan jiwa dan fisik manusia serta lingkungannya.
Tenaga kesehatan berperan sebagai perencana, penggerak dan sekaligus pelaksana pembangunan kesehatan, sehingga tanpa tersedianya tenaga dalam jumlah dan jenis yang sesuai, maka akan mempengaruhi pembangunan pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, Pemerintah memiliki kewajiban untuk mengadakan dan mengatur upaya pelayanan kesehatan yang dapat dijangkau masyarakatnya. Masyarakat dari semua lapisan memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
Tentunya aparatur kesehatan (dokter, perawat, tenaga kesehatan lainnya) tidak bisa bekerja sendirian untuk masalah PSM. Sebaiknya melakukan sosialisai PSM melibatkan tenaga pendidik dan kependidikan, siswa, dan lembaga pendidikan lainnya secara berantai.

BAB III
PENUTUP

3.1         Kesimpulan
PMS adalah singkatan dari Penyakit Menular Seksual, yang berarti suatu infeksi atau penyakit yang kebanyakan ditularkan melalui hubungan seksual (oral, anal atau lewat vagina). PMS yang banyak ditemui yaitu Gonorrhoe (GO), Sifilis, Trikomoniasis, Herves Simplek, HIV / AIDS. PMS adalah istilah umum dan organisme penyakit penyebabnya, yang tinggal dalam darah atau cairan tubuh, meliputi virus, mikoplasma, bakteri, jamur, spirokaeta dan parasit-parasit kecil (misalnya Phthirus pubis, skabies).
Perempuan lebih mudah terkena ISR dibandingkan laki – laki, karena saluran reproduksi perempuan lebih dekat ke anus dan saluran kencing, ISR pada perempuan juga sering tidak diketahui karena gejalanya kurang jelas dibandingkan dengan laki – laki.
Cara penularan PMS termasuk HIV / AIDS, dapat melalui :
1.      Hubungan seksual yang tidak terlindung, baik melalui vagina, anus, maupun oral. Cara ini merupakan cara paling utama ( lebih dari 90 % )
2.      Penularan dari ibu ke janin selama kehamilan ( HIV / AIDS, Herves, Sipilis ) pada persalinan ( HIV / AIDS, Gonorhoe, Klamidia ), sesudah bayi lahir  ( HIV / AIDS )
3.      Melalui transfusi darah, suntikan atau kontak langsung denagn cairan darah atau produk darah ( HIV / AIDS )
Perilaku yang berisiko tinggi terhadap penularan PMS, termasuk HIV / AIDS :
1.      Sering berganti – ganti pasangan seksual atau mempunyai satu atau lebih pasangan seksual baik yang dikenal atau yang tidak dikenal( misalnya dengan penjaja seksual )
2.      Pasangan seksual mempunyai pasangan ganda. Penularan dari ibu ke janin / bayinya sering bersumber dari pasangan / suami seperti ini
3.      Terus melakukan hubungan seksual, walaupun mempunyai keluhan PMS dan tidak memberitahukan kepada pasangannya tentang hal tersebut
4.      Tidak memakai kondom saat melakukan seksual dengan pasangan yang beresiko
5.      Pemakaian jarum suntik secara bersama – sama secara bergantian, misalnya pada penderita ketergantungan narkotika atau kelalaian petugas kesehatan dalam menjaga sterilitas alat suntik.
DAFTAR PUSTAKA

http://journal.lib.unair.ac.id/index.php/IJPH/article/view/489/488 (diakses pada: Rabu, 20 Maret 2013 , 20:42)
Karwati, dkk. 2011. Asuhan Kebidanan (Kebidanan Komunitas). Jakarta: Trans Info Media
Runjati. 2010. Asuhan Kebidanan Komunitas. Jakarta: EGC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar